WEA Women in Action

Maria Patricia Wata Beribe

Inspiring local youth to become environmental stewards in their communities

Maria Beribe Profile (1)

Region

Ende, Indonesia

Affiliations & Roles

Facilitator, Campus Without Walls

Since completing her studies at the Faculty of Agriculture, Nusa Cenda University, Kupang in 1996, Maria Patricia Wata Beribe has worked to combine education, environmentalism, food security, and community development in Ende.

In 1998, Maria became a field officer at the Tananua Flores Foundation, which supports farmers through sustainable agriculture, primary health programs, and the cultivation of a people's economy. From living with the communities in Woloara, Pemo, and Ndiko Sapu, Maria gained knowledge of women's limitations in accessing farming knowledge and skills, and essential health and educational facilities. These experiences motivated Maria to assist the mothers of farming families, who suffer the most. Maria helped establish a nutrition garden and construct a self-help water tank to help mothers waste less time waiting for water in the spring. She also trained farmer groups and young people to conserve their garden lands and the area around the spring to protect the spring itself. Maria acted as a liaison to local governments to get help from health workers and Posyandu houses, as well as gain grants for the construction of elementary school buildings in Ndiko Sapu Village.

In 2009 Maria joined VECO Rikolto (VECO) Indonesia, where she worked as a field officer until January 2020. As a field officer, she focused on the sustainable development of the cocoa chain in East Flores, Sikka, and Ende, as well as green prosperity projects in Southwest Sumba and Central Sumba. During her work at Rikolto, Maria's attention was not only on women and farming organizations but on young people as well. She focused on empowering young people and women to take responsibility for the future of agriculture through agroforestry and environmental sustainability in their villages.

Starting in 2018, Maria began facilitating an educational program called "Kampus Tanpa Dinding" (Campus without Walls) with universities in Ende and the RMC Youth Mandiri Community. This program was born from a concern that many young people seemed to be separated from their home communities and did not return to their respective villages to develop them. As part of these activities, Maria formed the "Ko'O Fai Nuwa Muri Festival" (Festival of young people for future food and natural harmony), and engaged students in participatory botanical studies of food and medicinal plants and traditional methods for introducing local plants, utilizing home yards for nutrition gardens, food processing, and cocoa field schools for Faperta Uniflor students. These activities aim to motivate students to love their villages and utilize their village's potential to build business ventures. The program brings students and village youths together to learn, share experiences, transfer knowledge, and exchange knowledge. The "Kampus Tanpa Dinding" team collaborated with many groups, including the Tananua Flores Foundation, the Ende Archdiocese PSE Commission, the local government, and the RMC. In 2019, they worked with British Council trainers for ACSE (Active Citizens Social Enterprise), training twice in Ende and Sikka Districts. They have also formed a joint 2-month program called Ethical Preuner (Sustainable Entrepreneurship) for young people in Ende.

Since leaving Rikolto Indonesia in January 2020, Maria still actively assists young people in a "Kampus Tanpa Dinding" apprenticeship, emphasizing an integrated crop development model in cocoa plantations and simple chocolate processing. Additionally, she conducts programs on healthy food for marginalized mothers and young people in Ende and surrounding cities by assisting the use of home yards for organic vegetables and fruits. Currently, Maria is preparing to develop further physical learning places for young people and women to gather for interaction and discussion in cooperation and actions with Ethical Preuner alumni.

Maria Patricia Wata Beribe4
Maria Patricia Wata Beribe11
Maria Patricia Wata Beribe1

Menyelesaikan studi pada Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cenda Kupang pada tahun 1996.

Dan Sejak tahun 1998 bekerja sebagai petugas lapangan di Yayasan Tananua Flores mendampingi para petani untuk program pertanian berkelanjutan, kesehatan primer (Gizi dan Sanitasi), ekonomi kerakyatan. Perjalanan sebagai petugas lapangan yang tinggal bersama masyarakat di desa Woloara, Pemo dan Ndiko Sapu pedalaman Kabupaten Ende telah memberikan pengalaman yang sangat berharga bagaimana melihat keterbatasan para perempuan dalam mengakses pengetahuan dan ketrampilan bertani, posisi perempuan yang masih lemah, ketersediaan sarana kesehatan seperti air bersih dan jamban keluarga dan petugas kesehatan dan sarana pendidikan yang sangat terbatas dengan rumah Sekolah Dasar yang sangat sederhana. Keterbatasan ini mendorong saya untuk memberikan pendampingan kepada para keluarga petani terutama para ibu yang paling merasakan penderitaan.  Kegiatan yang dilakukan adalah dengan kebun gizi, pembangunan bak air secara swadaya untuk membantu  para ibu tidak menghabiskan waktunya untuk menunggu air di mata air. Fasilitasi Survey mata air dengan ahli dari volunteer VSO dan ritual pembebasan mata air. Selain itu organize arisan pembangunan jamban. Melatih para kelompok tani dan anak muda untuk konservasi lahan-lahan kebun mereka yang kering dan miring dan juga konservasi daerah sekitar mata air untuk pelestarian kawasan untuk melindungi mata air.  Sebagai penghubung ke Pemerintah daerah untuk mendapat bantuan tenaga kesehatan, rumah posyandu, hibah pembangunan gedung SD di Desa Ndiko Sapu. Memotivasi anak-anak untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMP, SMA dan PT agar mereka bisa kembali membangun desanya.

Tahun 2009 bergabung dengan VECO Indonesia yang saat ini bernama Rikolto Indonesia dan bekerja sebagai Field Officer untuk  Rantai Kakao berkelanjutan sampai Januari 2020.

Sebagai Field Officer di Rikolto kami focus untuk pengembangan rantai kakao secara berkelanjutan di Flores Timur, Sikka dan Ende, selain itu juga dengan proyek kemakmuran hijau  di Sumba Barat daya dan Sumba Tengah. Selama bekerja di Rikolto perhatian saya tidak hanya kepada Bapak Ibu tani dan organisasi petani. Tetapi juga focus kepada pemberdayaan kaum muda dan perempuan agar mereka juga mencintai pertanian dan mengambil tanggungjawab untuk masa depan pertanian dengan konsep agroferestry dan kelestarian lingkungan di desanya.

Selain itu sejak tahun 2018 memfasilitasi pembelajaran yang kami namakan “Kampus Tanpa Dinding” dengan Perguruan Tinggi di Ende (Akademi Komunitas Negeri Ende, Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, Sekolah Tinggi pembangunan Masyarakat Sta. Ursula Ende dan Fakultas Pertanian Universitas Flores dengan pendekatan Youth Entrepreuner Lab) bersama RMC Remaja Mandiri Community.

Kampus Tanpa dinding ini lahir dari rasa keprihatinan bahwa banyak orang muda di kampus ketika mereka datang ke kota untuk menimba ilmu, mereka seolah terlepas dari komunitas asal mereka di desa mereka masing-masing dan tidak kembali lagi ke desanya untuk mengembanagkan potensi sumber daya yang ada di desanya. Pembelajaran mereka di kampus juga sangat terstruktur pada kurikulum di mana 70 % teori dan 30 % praktek pada hal saat sekarang ini orang muda dituntut untuk punya pengalaman dan skill saat lulus yang dapat digunakan pada saat mereka kembali ke desanya.

Focus kegiatan ini adalah pembelajaran menjadi fasilitator yang peduli terhadap lingkungan, community development - pengenalan desa sendiri, “Festival Ko’O Fai Nuwa Muri” (Festival muda mudi untuk pangan masa depan dan keseltarian alam), studi-studi partisipatif botani pangan dan tanaman obat tradisional untuk pengenalan botani lokal potesial kepada orang muda dan penyelamatan plasma nuftah, pemanfaatan pekarangan rumah untuk kebun gizi, pengolahan pangan (demo produk lokal) dan kewirausahaan serta Sekolah lapang kakao bagi mahasiswa Faperta Uniflor.

Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan ini bertujuan untuk memotivasi orang-orang muda kampus agar mencintai desanya, memanfaatkan potensi desanya untuk membangun usaha bisnisnya, mempertemukan orang-orang muda kampus dan orang-orang muda kampong untuk pembelajaran bersama, berbagi pengalaman, mentransfer pengetahuan, teknologi dan ketrampilan kepada orang-orang muda, meningkatkan kepercayaan diri orang muda untuk ambil tanggungjawab akan masa depan pangan dan kelestarian lingkungan dan upaya penyelamatan lingkungan, menjembatani anak-anak muda di daerah agar bisa terhubung dengan anak muda di daerah lain yang sudah sukses ataupun mereka bisa dapat kesempatan belajar di luar kampus.

Untuk kegiatan pemberdayaan kaum muda ini kami bekerjasama dengan Yayasan Tananua Flores, Perguruan Tinggi, Komisi PSE Keuskupan Agung Ende, Pemerintah daerah dan RMC. Pengalaman yang sungguh luar biasa adalah pada tahun 2019 kami bekerjasama dengan trainer British Council untuk Training ACSE (Active Citizens Social Enterprise) sebanyak 2 kali di Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Ada juga Program bersama Ethical  yaitu : Ethical Preuner (Kewirausahaan Berkelanjutan) selama 2 bulan bagi anak muda di Ende. Program ini sangat bermanfaat dengan model pembelajaran di akhir minggu dengan partisipasi aktif dan full belajar mandiri yang didampingi oleh Fasilitator luar biasa dari Ethical (Irma Patrisia, Maria Gode dan Saniy Amalia) dan jaringannya dan telah mencetak 24 wirausaha muda yang berkelanjutan.   Selain itu Untuk  publikasi kami selalu didukung oleh RRI Ende, Flores Pos dan beberapa media lokal lainnya.

Setelah berhenti bekerja di Rikolto Indonesia pada Januari 2020, saya masih aktif mendampingi orang muda kampus untuk “Kampus Tanpa Dinding” magang tentang model pengembangan tanaman terpadu dalam kebun kakao dan pengolahan coklat secara sederhana. Selain itu kami juga melakukan program mengenai pangan sehat bagi ibu-ibu dan orang muda di kota ende  dan sekitarnya yang masih tergolong marginal dengan Mendampingi pemanfaatan pekarangan rumah untuk sayuran dan buah organic.

Saat ini saya juga sedang dalam persiapan untuk mengembangan lebih jauh lagi semacam tempat pembelajaran fisik “Kampus Tanpa Dinding” untuk berkumpulnya orang muda dan perempuan untuk melakukan interaksi dan diskusi bekerjasama serta aksi-aksi dengan para alumni Ethical Preuner dan lebih banyak lagi ruang pembelajaran bagi anak muda lainya.

Meet More WEA Women in Action