WEA Women in Action

Wulansary

Empowering households to become self-sufficient in waste management

Memberdayakan rumah tangga agar mandiri dalam manajemen sampah

Wulansary

Region

East Jawa, Indonesia

Affiliations & Roles

Founder, Komunitas Sahabat Bumi

As the founder of Komunitas Sahabat Bumi, Wulansary encourages people to manage waste sustainably and become food independent. In 2014, she started her organization as an independent trash bank in Cibubur, Cikeas. She conducts door-to-door education to spark awareness about the dangers of mixing garbage. Komunitas Sahabat Bumi became well-known across Indonesia for a waste management method that Wulansary created named Felita (Household Waste Fermentation). The practical nature of the technique has led to a demand for purchases and educational requests cross-regionally. 

Although Wulsanary’s work is still person to person, the presence of Felita in many cities in Indonesia has helped build up the Sahabat Bumi community. Individuals from each area gather in WhatsApp groups to share knowledge, skills, and passions. Wulansary moved to Surabaya in 2016 to focus on the activities of Komunitas Sahabat Bumi. She has carried out many programs in Surabaya, including the Delta Sari House Garden program, where the community works alongside urban farmers to create food self-sufficient conditions for families.

Today, Wulansary is a film lecturer and a screenwriter, and aspires to continue making greater change in the environmental field. She hopes to create “zero to landfill” conditions for a commercial area, where all waste can be managed without going to landfill. Wulsanary believes that once waste issues are resolved according to local wisdom, this work will support the fields of economy, health, and even education in Indonesia.

 

Wulansary3
Wulansary5
Wulansary2

Wulansary, founder Komunitas Sahabat Bumi, merasa terpanggil untuk memberikan perhatian dan sebagian energinya untuk lingkungan. Sejak 2014, ia menginisiasi Komunitas Sahabat Bumi lewat bank sampah mandiri yang ia jalankan di Cibubur - Cikeas. Edukasi dari pintu ke pintu dilakukannya untuk menggugah kesadaran lebih banyak orang akan bahaya sampah yang tercampur jika dibiarkan berlangsung dengan cara yang sama terus menerus. Berawal dari sampah an-organik, ia akhirnya juga merambah ke pengelolaan sampah organik dalam rumah tangga. Menggunakan satu metode praktis yang ia namakan Felita (Fermentasi Limbah Rumah Tangga), Komunitas Sahabat Bumi dikenal di berbagai kota di Indonesia. Permintaan pembelian box dan activator Felita juga permintaan edukasi lintas wilayah terjadi berkat banyak orang merasa metode ini mudah diaplikasikan, tidak beresiko, tidak menyebabkan bau, belatung, yang intinya praktis. 

Meskipun masih bersifat person to person (belum komunal), tapi kehadiran Felita di banyak kota di Indonesia membuat Komunitas Sahabat Bumi makin eksis. Tiap-tiap kota berkumpul di satu grup whatsapp dan saling berbagi pengetahuan, skill serta semangat di platform online tersebut. 

Wulansary pindah ke Surabaya di tahun 2016, kegiatan Komunitas Sahabat Bumi pun terfokus di Surabaya. Banyak program telah dilakukan di Surabaya, salah satunya adalah Kebun Rumahan. Di mana komunitasnya mendampingi sejumlah petani kota dalam mewujudkan kondisi mandiri pangan di skala yang paling kecil, yaitu keluarga dan wilayah dalam perumahan. 

Wulansary, ibu 4 orang anak yang juga seorang dosen film di D3 TV dan Film Universitas 45 Surabaya, serta seorang penulis scenario, merasa masih banyak hal yang ingin ia lakukan di bidang lingkungan. Salah satunya adalah menginisiasi satu kawasan yang mampu mencapai kondisi pengelolaan sampah yang ZERO TO LANDFILL, yaitu satu kondisi di mana sampah dari wilayah tersebut sama sekali tidak dikirim ke TPA, melainkan habis dikelola sendiri. Ia percaya setelah masalah sampah teratasi secara tepat dan sesuai kearifan local, maka akan muncul dengan sendirinya potensi-potensi lain yang akan mendukung bidang perekonomian, kesehatan, bahkan pendidikan.

Meet More WEA Women in Action